A.
Sejarah Sistem Bilangan
Awal
kebangkitan teori bilangan modern dipelopori oleh Pierre de Fermat (1601-1665), Leonhard Euler (1707-1783), J.L
Lagrange (1736-1813), A.M.Legendre (1752-1833), Dirichlet (1805-1859), Dedekind
(1831-1916), Riemann(1826-1866), Giussepe Peano (1858-1932), Poisson
(1866-1962), dan Hadamard(1865-1963). Sebagai seorang pangeran matematika,
Gauss begitu terpesona terhadap keindahan dan kecantikan teori bilangan, dan
untuk melukiskannya, ia menyebut teori bilangan sebagai the queen of
mathematics. Pada masa ini, teori bilangan tidak hanya berkembang sebatas
konsep, tapi juga banyak diaplikasikan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan
dan teknologi. Hal ini dapat dilihat pada pemanfaatan konsep bilangan dalam
metode kode baris, kriptografi, komputer, dan lain sebagainya. Bilangan pada
awalnya hanya dipergunakan untuk mengingat jumlah, namun dalam perkembangannya
setelah para pakar matematika menambahkan perbendaharaan simbol dan kata-kata
yang tepat untuk mendefenisikan bilangan maka matematika menjadi hal yang
sangat penting bagi kehidupan dan tak bisa kita pungkiri bahwa dalam kehidupan
keseharian kita akan selalu bertemu dengan yang namanya bilangan, karena
bilangan selalu dibutuhkan baik dalam teknologi, sains, ekonomi ataupun dalam
dunia musik, filosofi dan hiburan.
Bilangan
dahulunya digunakan sebagai symbol untuk menggantikan suatu benda misalnya
kerikil, ranting yang masing-masing suku atau bangsa memiliki cara tersendiri
untuk menggambarkan bilangan dalam bentuk simbol diantaranya:
1.
Simbol
bilangan bangsa Babilonia sejak tahun 5000 SM.
| Babilonia |
2.
Simbol
bilangan bangsa Maya di Amerika pada 500 tahun SM.
3.
Simbol
bilangan menggunakan huruf Hieroglif yang dibuat bangsa Mesir Kuno.
4.
Simbol
bilangan bangsa Arab yang dibuat pada abad ke-11 dan dipakai hingga kini oleh
umat Islam di seluruh dunia.
5.
Simbol
bilangan bangsa Yunani Kuno.
6.
Simbol
bilangan bangsa Romawi yang juga masih dipakai hingga kini.
Tokoh-tokoh Teori Bilangan
1.
Pythagoras (582-496 SM)
Pythagoras adalah seorang matematikawan dan filsuf Yunani yang
paling dikenal melalui teoremanya. Dikenal sebagai “Bapak Bilangan”, dia memberikan
sumbangan yang penting terhadap filsafat dan ajaran keagamaan pada akhir abad
ke-6 SM. Salah satu peninggalan Pythagoras yang terkenal adalah teorema
Pythagoras, yang menyatakan bahwa kuadrat hipotenusa dari suatu segitiga
siku-siku adalah sama dengan jumlah kuadrat dari kaki-kakinya (sisi-sisi siku-sikunya).
Walaupun fakta di dalam teorema ini telah banyak diketahui sebelum lahirnya
Pythagoras, namun teorema ini dikreditkan kepada Pythagoras karena ia yang
pertama kali membuktikan pengamatan ini secara matematis.
2.
Al-Kashi (1380 M)
Terlahir pada 1380 di Kashan, sebuah padang pasir disebelah utara
wilayah Iran Tengah. Selama hidupnya, al-Kashi telah menyumbangkan dan
mewariskan sederet penemuan penting bagi astronomi dan matematika. Pecahan desimal
yang digunakan oleh orang-orang Cina pada zaman kuno selama berabad-abad,
sebenarnya merupakan pecahan desimal yang diciptakan oleh al-Kashi. Pecahan
desimal ini merupakan salah satu karya besarnya yang memudahkan untuk
menghitung aritmatika yang dia bahas dalam karyanya yang berjudul Kunci
Aritmatika yang diterbitkan pada awal abad ke-15 di Samarkand.
3.
Abu Ali Hasan Ibnu Al-Haytam (965 M)
Abu Ali Hasan Ibnu Al-Haytam lahir
Basrah Irak, yang oleh masyarakat Barat dikenal dengan nama Alhazen. Al-Haytam
adalah orang pertama yang mengklasifikasikan semua bilangan sempurna yang
genap, yaitu bilangan yang merupakan jumlah dari pembagi-pembagi sejatinya,
seperti yang berbentuk 2k-1(2k-1) di mana 2k-1 adalah bilangan prima. Selanjutnya
Al-Haytam membuktikan bahwa bila p adalah bilangan prima, 1+(p-1)! habis dibagi
oleh p.
B.
Bilangan Asli
Bilangan dapat diartikan sebagai himpunan dari bilangan-bilangan,
beserta operasi-operasi yang berlaku di dalamnya, seperti penjumlahan,
perkalian, ataupun operasi lainnya. Bilangan adalah suatu konsep matematika
yang digunakan untuk pencacahan dan pengukuran.. Bilangan dibedakan antara
nilai dan lambangnya. Bilangan suatu hal yang penting dalam matematika,
matematika tidak akan terlepas dari bilangan. Sistem bilangan setidaknya,
meliputi: bilangan asli, bilangan cacah, bilangan bulat, bilangan rasional,
bilangan real, serta bilangan kompleks.
Himpunan
bilangan asli adalah himpunan bilangan yang lebih besar dari (nol). Himpunan
bilangan ini dinotasikan dengan N. Oleh karena itu dapat dituliskan dengan,
N ={1,2,3,4,5, …}
Bilangan
asli memiliki setidaknya 2 tujuan, yaitu 1) untuk menghitung (cardinal
number); 2) untuk menyatakan tingkatan (ordinal number).
Jika
dalam himpunan tersebut ditambahkan dengan nol, maka menjadi himpunan
bilangan
cacah, yaitu:
N+{0} = {0,1,2,3,4,5, …}
C.
Bilangan Bulat
Untuk menyatakan bilangan yang bernilai 2 kurangnya 0,
adalah negatif 2 atau -2. Suhu di daerah kutub rata-rata 20° dibawah 0° dinyatakan
-20°, untuk itu kita harus memperluas himpunan bilangan cacah dengan himpunan
bilangan lain yaitu dengan himpunan lawan dari bilangan asli atau himpunan
bilangan bulat negatif yang disebut bilangan bulat yaitu:
{…,-4,-3,-2,-1,0,1,2,3,4,...}.
Sesuai dengan namanya, bulat, berarti tidak menyertakan
pecahan, baik itu positif, negatif, ataupun bilangan nol. Dalam bilangan bulat,
dikatakan positif jika bilangan tersebut lebih besar dari 0, dan dikatakan
negatif jika bilangan tersebut lebih kecil dari 0. Bagaimana dengan 0 itu
sendiri? Bilangan nol kita pergunakan untuk penulisan nilai tempat pada suatu
sistem numerasi, sehingga kita dapat membedakan antara bilangan 21, 20, dan
201.
Bilangan
bulat dinotasikan dengan Z (Zahlen, German for numbers) sehingga,
Z= {…, -4, -3, -2, -1,0,1,2,3,4,5, …}
Bilangan bulat dapat
direpresentasikan dengan dua cara, yaitu dengan model himpunan dan model
pengukuran. Dalam model himpunan, bilangan bulat dapat direpresentasikan dengan
keping berwarna. Misalkan, keeping warna hitam menunjukkan bilangan negatif dan
keping warna putih menunjukkan bilangan positif. Bilangan 1 dapat
direpresentasikan dengan satu keping berwarna putih, dan bilangan -1 dapat
direpresentasikan dengan satu keping berwarna hitam. Sebuah keping berwarna
hitam dan sebuah keping berwarna putih dapat saling menghapus. Dengan
menggunakan konsep ini, bilangan bulat dapat direpresentasikan sebagai kumpulan
keeping dengan beberapa cara. Misalkan bilangan -4, dapat direpresentasikan
sebagai kumpulan keping sebagai berikut.
Beberapa contoh
bilangan-bilangan bulat lainnya dapat ditunjukkan sebagai berikut.
Masing-masing contoh
bilangan bulat tersebut dapat direpresentasikan dalam berbagai cara.
Bilangan bulat dapat direpresentasikan dengan cara
lain, yaitu dengan model pengukuran. Dalam hal ini, bilangan bulat ditunjukkan
dengan noktah-noktah pada garis bilangan sebagai berikut.
Bilangan-bilangan bulat
tersebut direpresentasikan secara simetris terhadap 0 dari kiri ke kanan pada
garis bilangan. Bilangan bulat di sebelah kiri 0 menunjukkan bilangan negatif, sedangkan di kanan 0
menunjukkan bilangan positif. Lawan bilangan
bulat a, ditulis dengan –a atau (-a). Dengan model
pengukuran, lawan dari a ditunjukkan dengan bayangan a terhadap 0 pada garis bilangan. Lawan bilangan bulat positif adalah
negatif, lawan bilangan bulat negatif adalah
positif. Sedangkan lawan dari 0 adalah 0.
1.
Operasi Penjumlahan
Dengan model himpunan, penjumlahan dua bilangan bulat dilakukan dengan
menggabungkan dua himpunan yang saling asing. Kedua himpunan tersebut merupakan
representasi dari dua kumpulan keping. Beberapa penjumlahan dua bilangan bulat
dengan model himpunan ditunjukkan sebagai berikut.
a. 2 + 5 = 7
b. (-2) + (-4) = -6
c. 3 + (-5) = -2
Dengan model pengukuran,
penjumlahan dua bilangan bulat dilakukan dengan menempatkan pangkal anak panah
berarah pada ujung anak panah yang
pangkalnya 0. Bilangan bulat positif ditunjukkan dengan anak panah yang arahnya ke kanan. Bilangan bulat negatif ditunjukkan
dengan anak panah ke kiri. Beberapa
penjumlahan bilangan bulat dengan model pengukuran
ditunjukkan sebagai berikut.
a. 1 + 3 =
Dari titik 0 melangkah ke kanan (maju) sebanyak 2 langkah (satuan)
dilanjutkan dengan melangkah ke kanan (maju) sebanyak 3 langkah (satuan) lagi,
dan hasilnya dapat dilihat pada garis bilangan, yaitu 1 + 3 = 4
b. (-1) + (-4) =
Dari titik 0 kita bergeser ke kiri sebanyak 1 satuan dan dilanjutkan
dengan bergeser ke kiri lagi sebanyak 4 satuan dan hasilnya dapat dilihat pada
garis bilangan, yaitu (-1) + (-4) = -5
c. -2 + 6 =
Dari titik 0 kita bergeser ke kiri sebanyak 2 satuan dan
dilanjutkan dengan bergeser ke kanan sebanyak 6 satuan, dan hasilnya dapat
dilihat pada garis bilangan yaitu -2 + 6 = 4
Aksioma
penjumlahan bilangan bulat
Misalkan
a dan b masing-masing merupakan bilangan bulat.
a. Penjumlahan dengan nol.
a + 0 = a = 0 + a
b. Penjumlahan dua bilangan bulat positif
Misalkan a dan b masing-masing bilangan
bulat positif. Jika A dan B dua
himpunan yang saling asing dengan n(A) = a dan n(B) = b maka
a + b = n
(AUB).
c. Penjumlahan dua bilangan bulat negatif
Misalkan a dan b masing-masing bilangan bulat
positif. Berarti -a dan -b masing-masing
bilangan negatif sehingga (-a) + (-b) = - (a+b). Dalam hal ini, a + b merupakan
jumlah dua bilangan positif.
d. Penjumlahan bilangan positif dan negatif.
1)
Jika a dan b masing-masing bilangan bulat positif, dan a > b
maka a + (-b) = a - b. Dalam hal ini, a - b merupakan selisih
bilangan cacah a dan b.
2)
Jika a dan b masing-masing
bilangan bulat positif, dan a < b maka, a + (-b) = - (b - a). Dalam hal ini,
b - a merupakan selisih bilangan cacah a dan b.
2.
Operasi Pengurangan
Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan tentang representasi bilangan
bulat sebagai kumpulan keping. Representasi tersebut dapat digunakan untuk menjelaskan
pengurangan bilangan bulat melalui pengambilan langsung dan penjumlahan dengan lawan.
Pengurangan bilangan bulat juga dapat dijelaskan dengan pemisalan.
Dengan model pengukuran,
pengurangan dua bilangan bulat dilakukan dengan menempatkan pangkal anak panah
berarah pada ujung anak panah yang
pangkalnya 0. Bilangan bulat positif ditunjukkan dengan anak panah yang arahnya ke kanan. Bilangan bulat negatif ditunjukkan
dengan anak panah ke kiri. Beberapa
penjumlahan bilangan bulat dengan model pengukuran
ditunjukkan sebagai berikut.
a. 4 - 7 = n
Dari titik 0 bergeser ke kanan 4 satuan, dilanjutkan dengan bergeser ke
kiri sebanyak 7 satuan dan hasilnya menunjukkan titik -3.
b. -5 - 3 = n
Dari titik 0 bergeser ke kiri sebanyak 5
satuan dilanjutkan bergeser ke kiri lagi sebanyak 3 satuan dan hasilnya
menunjukkan titik -8.
c. 6 - (-2) = n
Mengurangi 6 oleh -2 sama artinya dengan
menambah 6 oleh lawan -2, yaitu 2. Jadi, 6 - (-2) = 6 + 2 = 8 sehingga n = 8.
D.
Bilangan Rasional
1. Pengertian Bilangan Rasional
Pada semesta himpunan bilangan bulat, persamaan: 5x + 3 = 0, tidak
mempunyai selesaian. Oleh karena itu, himpunan bilangan bulat diperluas menjadi
himpunan bilangan rasional sehingga persamaan tersebut mempunyai selesaian.
Himpunan semua bilangan rasional didefinisikan sebagai berikut.
Definisi
himpunan bilangan rasional:
Q = {
| a dan b bilangan bulat, b ≠ 0}
Bilangan rasional adalah
bilangan yang dapat dinyatakan dengan perbandingan (rasio)
, yang mana a adalah
bilangan bulat, b adalah bilangan bulat dan b ≠ 0.
Contoh dari bilangan
rasional
,
,
,
, dan
. Bilangan
rasional campuran -3
=
, -5
=
dan 2
=
.
2. Kesamaan Bilangan Rasional
Bilangan-bilangan rasional
dan
adalah
sama, ditulis
=
jika dan
hanya jika ad=bc.
Contoh :
a.
=
sebab 3 ×
12 = 4 × 9 = 36
b.
=
sebab 15
(-20) = 5 (-60) = -300
c.
≠
sebab 4(10)
dan 7(6) atau 40 ≠ 42
3. Sifat-sifat Bilangan Rasional
Himpunan bilangan rasional dengan operasi penjumlahan dan
perkalian membentuk suatu sistem atau struktur dengan sifat-sifat tertentu.
Beberapa sifat mendasar operasi penjumlahan dan perkalian pada himpunan
bilangan rasional adalah berikut ini.
a. Sifat Ketertutupan
.
=
b. Sifat Komutatif
.
=
.
c. Sifat Asosiatif
(
.
)
=
(
)
d. Sifat Identitas
. 1 =
= 1.
(1 =
)
e. Sifat Inverse
Untuk sebarang
ϵ Q ada x ϵ Q dan y ϵ Q yang masing-masing adalah tunggal sehingga :
+ x = x +
= 0
. y = y .
= 1
x
disebut inverse penjumlahan (lawan) dari
, ditulis dengan x =
y
disebut inverse perkalian (kebalikan) dari
, ditulis dengan y =
=
f. Sifat Distributif
Jika
,
dan
adalah sebarang unsure Q maka
. [
+
] =
.
+
4.
Bilangan Rasional Desimal
Ada banyak lambang
yang dapat digunakan untuk memberi nama bilangan, tetapi setiap lambang hanya
mewakili sebuah bilangan. Lambang bilangan yang digunakan sampai sekarang
adalah lambang Romawi dan lambang Hindu-Arab.
Lambang
bilangan Hindu-Arab yang menggunakan nilai tempat ini menggunakan perpangkatan
bulat dari sepuluh untuk setiap posisi atau tempat, sehingga disebut decimal.
Dalam kaitannya
dengan bilangan rasional pecahan, Simon Stevin (Belanda), pada abad 16
memperkenalkan cara menuliskan pecahan dalam bentuk decimal sebagai berikut :
a. Tanda koma diletakkan setelah angka satuan.
b. Satu angka bilangan setelah koma menyatakan persepuluhan.
c. Setiap satu angka bilangan berikutnya, secara berturut-turut
menyatakan perseratusan, perseribuan dan seterusnya.
d. Bilangan-bilangan rasional dengan penyebut 10 mempunyai satu tempat
decimal, penyebut 100 mempunyai dua tempat decimal, penyebut 1000 mempunyai
tiga tempat decimal, dan seterusnya.
Cara Simon
Stevin untuk menuliskan bilangan rasional pecahan dinamakan notasi decimal yang
diperluas.
Contoh :
a. Bilangan-bilangan rasional persepuluhan mempunyai satu angka
decimal setelah koma.
1)
= 0,3
2)
=
= 2,8
3)
=
= 12,7
b. Bilangan-bilangan rasional perseratusan mempunyai dua angka decimal
setelah koma.
1)
= 0,35
2)
=
= 1,23
3)
=
= 56,78
c. Bilangan-bilangan decimal dapat ditulis menjadi bilangan rasional
pecahan dengan penyebut yang sesuai dengan banyaknya angka decimal setelah
koma.
1)
0,2
=
2)
0,40 =
3)
1,135 =
A.
Sejarah Sistem Bilangan
Awal
kebangkitan teori bilangan modern dipelopori oleh Pierre de Fermat (1601-1665), Leonhard Euler (1707-1783), J.L
Lagrange (1736-1813), A.M.Legendre (1752-1833), Dirichlet (1805-1859), Dedekind
(1831-1916), Riemann(1826-1866), Giussepe Peano (1858-1932), Poisson
(1866-1962), dan Hadamard(1865-1963). Sebagai seorang pangeran matematika,
Gauss begitu terpesona terhadap keindahan dan kecantikan teori bilangan, dan
untuk melukiskannya, ia menyebut teori bilangan sebagai the queen of
mathematics. Pada masa ini, teori bilangan tidak hanya berkembang sebatas
konsep, tapi juga banyak diaplikasikan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan
dan teknologi. Hal ini dapat dilihat pada pemanfaatan konsep bilangan dalam
metode kode baris, kriptografi, komputer, dan lain sebagainya. Bilangan pada
awalnya hanya dipergunakan untuk mengingat jumlah, namun dalam perkembangannya
setelah para pakar matematika menambahkan perbendaharaan simbol dan kata-kata
yang tepat untuk mendefenisikan bilangan maka matematika menjadi hal yang
sangat penting bagi kehidupan dan tak bisa kita pungkiri bahwa dalam kehidupan
keseharian kita akan selalu bertemu dengan yang namanya bilangan, karena
bilangan selalu dibutuhkan baik dalam teknologi, sains, ekonomi ataupun dalam
dunia musik, filosofi dan hiburan.
Bilangan
dahulunya digunakan sebagai symbol untuk menggantikan suatu benda misalnya
kerikil, ranting yang masing-masing suku atau bangsa memiliki cara tersendiri
untuk menggambarkan bilangan dalam bentuk simbol diantaranya:
1.
Simbol
bilangan bangsa Babilonia sejak tahun 5000 SM.
2.
Simbol
bilangan bangsa Maya di Amerika pada 500 tahun SM.
3.
Simbol
bilangan menggunakan huruf Hieroglif yang dibuat bangsa Mesir Kuno.
4.
Simbol
bilangan bangsa Arab yang dibuat pada abad ke-11 dan dipakai hingga kini oleh
umat Islam di seluruh dunia.
5.
Simbol
bilangan bangsa Yunani Kuno.
6.
Simbol
bilangan bangsa Romawi yang juga masih dipakai hingga kini.
Tokoh-tokoh Teori Bilangan
1.
Pythagoras (582-496 SM)
Pythagoras adalah seorang matematikawan dan filsuf Yunani yang
paling dikenal melalui teoremanya. Dikenal sebagai “Bapak Bilangan”, dia memberikan
sumbangan yang penting terhadap filsafat dan ajaran keagamaan pada akhir abad
ke-6 SM. Salah satu peninggalan Pythagoras yang terkenal adalah teorema
Pythagoras, yang menyatakan bahwa kuadrat hipotenusa dari suatu segitiga
siku-siku adalah sama dengan jumlah kuadrat dari kaki-kakinya (sisi-sisi siku-sikunya).
Walaupun fakta di dalam teorema ini telah banyak diketahui sebelum lahirnya
Pythagoras, namun teorema ini dikreditkan kepada Pythagoras karena ia yang
pertama kali membuktikan pengamatan ini secara matematis.
2.
Al-Kashi (1380 M)
Terlahir pada 1380 di Kashan, sebuah padang pasir disebelah utara
wilayah Iran Tengah. Selama hidupnya, al-Kashi telah menyumbangkan dan
mewariskan sederet penemuan penting bagi astronomi dan matematika. Pecahan desimal
yang digunakan oleh orang-orang Cina pada zaman kuno selama berabad-abad,
sebenarnya merupakan pecahan desimal yang diciptakan oleh al-Kashi. Pecahan
desimal ini merupakan salah satu karya besarnya yang memudahkan untuk
menghitung aritmatika yang dia bahas dalam karyanya yang berjudul Kunci
Aritmatika yang diterbitkan pada awal abad ke-15 di Samarkand.
3.
Abu Ali Hasan Ibnu Al-Haytam (965 M)
Abu Ali Hasan Ibnu Al-Haytam lahir
Basrah Irak, yang oleh masyarakat Barat dikenal dengan nama Alhazen. Al-Haytam
adalah orang pertama yang mengklasifikasikan semua bilangan sempurna yang
genap, yaitu bilangan yang merupakan jumlah dari pembagi-pembagi sejatinya,
seperti yang berbentuk 2k-1(2k-1) di mana 2k-1 adalah bilangan prima. Selanjutnya
Al-Haytam membuktikan bahwa bila p adalah bilangan prima, 1+(p-1)! habis dibagi
oleh p.
B.
Bilangan Asli
Bilangan dapat diartikan sebagai himpunan dari bilangan-bilangan,
beserta operasi-operasi yang berlaku di dalamnya, seperti penjumlahan,
perkalian, ataupun operasi lainnya. Bilangan adalah suatu konsep matematika
yang digunakan untuk pencacahan dan pengukuran.. Bilangan dibedakan antara
nilai dan lambangnya. Bilangan suatu hal yang penting dalam matematika,
matematika tidak akan terlepas dari bilangan. Sistem bilangan setidaknya,
meliputi: bilangan asli, bilangan cacah, bilangan bulat, bilangan rasional,
bilangan real, serta bilangan kompleks.
Himpunan
bilangan asli adalah himpunan bilangan yang lebih besar dari (nol). Himpunan
bilangan ini dinotasikan dengan N. Oleh karena itu dapat dituliskan dengan,
N ={1,2,3,4,5, …}
Bilangan
asli memiliki setidaknya 2 tujuan, yaitu 1) untuk menghitung (cardinal
number); 2) untuk menyatakan tingkatan (ordinal number).
Jika
dalam himpunan tersebut ditambahkan dengan nol, maka menjadi himpunan
bilangan
cacah, yaitu:
N+{0} = {0,1,2,3,4,5, …}
C.
Bilangan Bulat
Untuk menyatakan bilangan yang bernilai 2 kurangnya 0,
adalah negatif 2 atau -2. Suhu di daerah kutub rata-rata 20° dibawah 0° dinyatakan
-20°, untuk itu kita harus memperluas himpunan bilangan cacah dengan himpunan
bilangan lain yaitu dengan himpunan lawan dari bilangan asli atau himpunan
bilangan bulat negatif yang disebut bilangan bulat yaitu:
{…,-4,-3,-2,-1,0,1,2,3,4,...}.
Sesuai dengan namanya, bulat, berarti tidak menyertakan
pecahan, baik itu positif, negatif, ataupun bilangan nol. Dalam bilangan bulat,
dikatakan positif jika bilangan tersebut lebih besar dari 0, dan dikatakan
negatif jika bilangan tersebut lebih kecil dari 0. Bagaimana dengan 0 itu
sendiri? Bilangan nol kita pergunakan untuk penulisan nilai tempat pada suatu
sistem numerasi, sehingga kita dapat membedakan antara bilangan 21, 20, dan
201.
Bilangan
bulat dinotasikan dengan Z (Zahlen, German for numbers) sehingga,
Z= {…, -4, -3, -2, -1,0,1,2,3,4,5, …}
Bilangan bulat dapat
direpresentasikan dengan dua cara, yaitu dengan model himpunan dan model
pengukuran. Dalam model himpunan, bilangan bulat dapat direpresentasikan dengan
keping berwarna. Misalkan, keeping warna hitam menunjukkan bilangan negatif dan
keping warna putih menunjukkan bilangan positif. Bilangan 1 dapat
direpresentasikan dengan satu keping berwarna putih, dan bilangan -1 dapat
direpresentasikan dengan satu keping berwarna hitam. Sebuah keping berwarna
hitam dan sebuah keping berwarna putih dapat saling menghapus. Dengan
menggunakan konsep ini, bilangan bulat dapat direpresentasikan sebagai kumpulan
keeping dengan beberapa cara. Misalkan bilangan -4, dapat direpresentasikan
sebagai kumpulan keping sebagai berikut.
….. dan sebagainya.
Beberapa contoh
bilangan-bilangan bulat lainnya dapat ditunjukkan sebagai berikut.
Masing-masing contoh
bilangan bulat tersebut dapat direpresentasikan dalam berbagai cara.
Bilangan bulat dapat direpresentasikan dengan cara
lain, yaitu dengan model pengukuran. Dalam hal ini, bilangan bulat ditunjukkan
dengan noktah-noktah pada garis bilangan sebagai berikut.
Bilangan-bilangan bulat
tersebut direpresentasikan secara simetris terhadap 0 dari kiri ke kanan pada
garis bilangan. Bilangan bulat di sebelah kiri 0 menunjukkan bilangan negatif, sedangkan di kanan 0
menunjukkan bilangan positif. Lawan bilangan
bulat a, ditulis dengan –a atau (-a). Dengan model
pengukuran, lawan dari a ditunjukkan dengan bayangan a terhadap 0 pada garis bilangan. Lawan bilangan bulat positif adalah
negatif, lawan bilangan bulat negatif adalah
positif. Sedangkan lawan dari 0 adalah 0.
1.
Operasi Penjumlahan
Dengan model himpunan, penjumlahan dua bilangan bulat dilakukan dengan
menggabungkan dua himpunan yang saling asing. Kedua himpunan tersebut merupakan
representasi dari dua kumpulan keping. Beberapa penjumlahan dua bilangan bulat
dengan model himpunan ditunjukkan sebagai berikut.
a. 2 + 5 = 7
b. (-2) + (-4) = -6
c. 3 + (-5) = -2
Dengan model pengukuran,
penjumlahan dua bilangan bulat dilakukan dengan menempatkan pangkal anak panah
berarah pada ujung anak panah yang
pangkalnya 0. Bilangan bulat positif ditunjukkan dengan anak panah yang arahnya ke kanan. Bilangan bulat negatif ditunjukkan
dengan anak panah ke kiri. Beberapa
penjumlahan bilangan bulat dengan model pengukuran
ditunjukkan sebagai berikut.
a. 1 + 3 =
Dari titik 0 melangkah ke kanan (maju) sebanyak 2 langkah (satuan)
dilanjutkan dengan melangkah ke kanan (maju) sebanyak 3 langkah (satuan) lagi,
dan hasilnya dapat dilihat pada garis bilangan, yaitu 1 + 3 = 4
b. (-1) + (-4) =
Dari titik 0 kita bergeser ke kiri sebanyak 1 satuan dan dilanjutkan
dengan bergeser ke kiri lagi sebanyak 4 satuan dan hasilnya dapat dilihat pada
garis bilangan, yaitu (-1) + (-4) = -5
c. -2 + 6 =
Dari titik 0 kita bergeser ke kiri sebanyak 2 satuan dan
dilanjutkan dengan bergeser ke kanan sebanyak 6 satuan, dan hasilnya dapat
dilihat pada garis bilangan yaitu -2 + 6 = 4
Aksioma
penjumlahan bilangan bulat
Misalkan
a dan b masing-masing merupakan bilangan bulat.
a. Penjumlahan dengan nol.
a + 0 = a = 0 + a
b. Penjumlahan dua bilangan bulat positif
Misalkan a dan b masing-masing bilangan
bulat positif. Jika A dan B dua
himpunan yang saling asing dengan n(A) = a dan n(B) = b maka
a + b = n
(AUB).
c. Penjumlahan dua bilangan bulat negatif
Misalkan a dan b masing-masing bilangan bulat
positif. Berarti -a dan -b masing-masing
bilangan negatif sehingga (-a) + (-b) = - (a+b). Dalam hal ini, a + b merupakan
jumlah dua bilangan positif.
d. Penjumlahan bilangan positif dan negatif.
1)
Jika a dan b masing-masing bilangan bulat positif, dan a > b
maka a + (-b) = a - b. Dalam hal ini, a - b merupakan selisih
bilangan cacah a dan b.
2)
Jika a dan b masing-masing
bilangan bulat positif, dan a < b maka, a + (-b) = - (b - a). Dalam hal ini,
b - a merupakan selisih bilangan cacah a dan b.
2.
Operasi Pengurangan
Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan tentang representasi bilangan
bulat sebagai kumpulan keping. Representasi tersebut dapat digunakan untuk menjelaskan
pengurangan bilangan bulat melalui pengambilan langsung dan penjumlahan dengan lawan.
Pengurangan bilangan bulat juga dapat dijelaskan dengan pemisalan.
Dengan model pengukuran,
pengurangan dua bilangan bulat dilakukan dengan menempatkan pangkal anak panah
berarah pada ujung anak panah yang
pangkalnya 0. Bilangan bulat positif ditunjukkan dengan anak panah yang arahnya ke kanan. Bilangan bulat negatif ditunjukkan
dengan anak panah ke kiri. Beberapa
penjumlahan bilangan bulat dengan model pengukuran
ditunjukkan sebagai berikut.
a. 4 - 7 = n
Dari titik 0 bergeser ke kanan 4 satuan, dilanjutkan dengan bergeser ke
kiri sebanyak 7 satuan dan hasilnya menunjukkan titik -3.
b. -5 - 3 = n
Dari titik 0 bergeser ke kiri sebanyak 5
satuan dilanjutkan bergeser ke kiri lagi sebanyak 3 satuan dan hasilnya
menunjukkan titik -8.
c. 6 - (-2) = n
Mengurangi 6 oleh -2 sama artinya dengan
menambah 6 oleh lawan -2, yaitu 2. Jadi, 6 - (-2) = 6 + 2 = 8 sehingga n = 8.
D.
Bilangan Rasional
1. Pengertian Bilangan Rasional
Pada semesta himpunan bilangan bulat, persamaan: 5x + 3 = 0, tidak
mempunyai selesaian. Oleh karena itu, himpunan bilangan bulat diperluas menjadi
himpunan bilangan rasional sehingga persamaan tersebut mempunyai selesaian.
Himpunan semua bilangan rasional didefinisikan sebagai berikut.
Definisi
himpunan bilangan rasional:
Q = {
| a dan b bilangan bulat, b ≠ 0}
Bilangan rasional adalah
bilangan yang dapat dinyatakan dengan perbandingan (rasio)
, yang mana a adalah
bilangan bulat, b adalah bilangan bulat dan b ≠ 0.
Contoh dari bilangan
rasional
,
,
,
, dan
. Bilangan
rasional campuran -3
=
, -5
=
dan 2
=
.
2. Kesamaan Bilangan Rasional
Bilangan-bilangan rasional
dan
adalah
sama, ditulis
=
jika dan
hanya jika ad=bc.
Contoh :
a.
=
sebab 3 ×
12 = 4 × 9 = 36
b.
=
sebab 15
(-20) = 5 (-60) = -300
c.
≠
sebab 4(10)
dan 7(6) atau 40 ≠ 42
3. Sifat-sifat Bilangan Rasional
Himpunan bilangan rasional dengan operasi penjumlahan dan
perkalian membentuk suatu sistem atau struktur dengan sifat-sifat tertentu.
Beberapa sifat mendasar operasi penjumlahan dan perkalian pada himpunan
bilangan rasional adalah berikut ini.
a. Sifat Ketertutupan
.
=
b. Sifat Komutatif
.
=
.
c. Sifat Asosiatif
(
.
)
=
(
)
d. Sifat Identitas
. 1 =
= 1.
(1 =
)
e. Sifat Inverse
Untuk sebarang
ϵ Q ada x ϵ Q dan y ϵ Q yang masing-masing adalah tunggal sehingga :
+ x = x +
= 0
. y = y .
= 1
x
disebut inverse penjumlahan (lawan) dari
, ditulis dengan x =
y
disebut inverse perkalian (kebalikan) dari
, ditulis dengan y =
=
f. Sifat Distributif
Jika
,
dan
adalah sebarang unsure Q maka
. [
+
] =
.
+
4.
Bilangan Rasional Desimal
Ada banyak lambang
yang dapat digunakan untuk memberi nama bilangan, tetapi setiap lambang hanya
mewakili sebuah bilangan. Lambang bilangan yang digunakan sampai sekarang
adalah lambang Romawi dan lambang Hindu-Arab.
Lambang
bilangan Hindu-Arab yang menggunakan nilai tempat ini menggunakan perpangkatan
bulat dari sepuluh untuk setiap posisi atau tempat, sehingga disebut decimal.
Dalam kaitannya
dengan bilangan rasional pecahan, Simon Stevin (Belanda), pada abad 16
memperkenalkan cara menuliskan pecahan dalam bentuk decimal sebagai berikut :
a. Tanda koma diletakkan setelah angka satuan.
b. Satu angka bilangan setelah koma menyatakan persepuluhan.
c. Setiap satu angka bilangan berikutnya, secara berturut-turut
menyatakan perseratusan, perseribuan dan seterusnya.
d. Bilangan-bilangan rasional dengan penyebut 10 mempunyai satu tempat
decimal, penyebut 100 mempunyai dua tempat decimal, penyebut 1000 mempunyai
tiga tempat decimal, dan seterusnya.
Cara Simon
Stevin untuk menuliskan bilangan rasional pecahan dinamakan notasi decimal yang
diperluas.
Contoh :
a. Bilangan-bilangan rasional persepuluhan mempunyai satu angka
decimal setelah koma.
1)
= 0,3
2)
=
= 2,8
3)
=
= 12,7
b. Bilangan-bilangan rasional perseratusan mempunyai dua angka decimal
setelah koma.
1)
= 0,35
2)
=
= 1,23
3)
=
= 56,78
c. Bilangan-bilangan decimal dapat ditulis menjadi bilangan rasional
pecahan dengan penyebut yang sesuai dengan banyaknya angka decimal setelah
koma.
1)
0,2
=
2)
0,40 =
3)
1,135 =
Materinya mudah di pahami.. terima kasih tina...
BalasHapusIya ka sama-sama ka
HapusMaterinya mudah di pahami.. terima kasih tina...
BalasHapusBagus sekali, jadi tau tentang sejarah bilangan.. Sangat bermanfaat☺️
BalasHapusKeren...,
BalasHapuspanjang juga ya perjalanan bilangan termasuk sejarahnya. Maksih infonyaaa .. 😃
BalasHapusMenambah pengetahuan untuk mengetahui sejarah bilangan..
BalasHapusTerimakasih infonya
Wah, kayanya makalah yg diposting gak terlalu rumit .. makasih ya infonya
BalasHapusIya ka, lebih ke sejarah bilangannya
HapusIlmu yg bermanfaat nihh
BalasHapusMenarik sekali artikelnya.. tapi bisa lebih cakep lagi nih klo pake fitur "read more" atau sejenisnya sehingga teknya tidak terlalu panjang tampil di halaman depan. Semangat..
BalasHapusUniversitas Djuanda